Minggu, 14 April 2013

ZIARAH KUBUR



Di antara sunnah Rasulullah adalah ziarah kubur.
Rasulullah n bersabda:
إِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ الْآخِرَةَ
“Dulu aku pernah melarang kalian berziarah kubur, sekarang berziarahlah kalian ke kuburan karena itu akan mengingatkan kalian kepada akhirat.” (HR. Muslim dari Buraidah bin Hushaib)
Dalam riwayat Abu Dawud:
وَلْتَزِدْكُمْ زِيَارَتُهَا خَيْرًا
“Ziarah kubur akan menambah kebaikan bagi kalian.”
Ziarah kubur adalah salah satu ibadah yang harus dilakukan dengan ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah supaya diterima oleh Allah. Oleh karena itu, seseorang yang ingin menjaga agamanya, hendaknya mempelajari agamanya termasuk dalam masalah ziarah kubur, karena sekarang ini banyak orang yang terjatuh dalam penyimpangan ketika melaksanakan ziarah kubur.

Tujuan Ziarah Kubur
Tujuan ziarah kubur ada dua hal.
1. Orang yang berziarah mendapatkan manfaat dengan mengingat mati dan orang yang telah mati. Dia akan mengingat bahwa tempat kembalinya bisa surga atau neraka. Ini adalah tujuan utama ziarah kubur.
2. Berbuat baik kepada orang yang telah meninggal dengan mendoakan dan memintakan ampun untuk mereka. Manfaat ini hanya didapat ketika berziarah ke kuburan muslim. (Ahkamul Jana’iz, hlm. 239)

Dari Buraidah, Rasulullah bersabda:
نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا
“Aku dulu melarang kalian ziarah kubur, (sekarang) ziarahlah kalian ke kuburan.” (HR. Muslim).

Dalam riwayat an-Nasa’i dengan lafadz:
وَنَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَزُورَ فَلْيَزُرْ وَلَا تَقُولُوا هُجْرًا
“Aku dulu melarang kalian berziarah kubur. Barang siapa yang ingin ziarah kubur silakan berziarah dan janganlah kalian mengucapkan hujran(Kata kata yg tidak baik).”

Ada riwayat dari Abdullah bin Abi Malikah. Suatu ketika 'Aisyah pulang dari ziarah kubur, maka saya bertanya kepadanya, Wahai Ummahatul Mukminin (ibu umat Mukmin), dari manakah engkau? Dia menjawab, Dari kuburan saudaraku, Abdurrahman.

Aku bertanya lagi kepadanya, Bukankah Rasulullah SAW melarang berziarah ke makam? Aisyah kemudian menjawab, Benar. Rasulullah SAW pernah melarang ziarah ke makam, tetapi sekarang memerintahkan untuk ziarah ke makam.(HR Hakim dan Baihaqi).

Ziarah Ke Makam Orang Tua

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ زَارَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْرَ أُمِّهِ فَبَكَى وَأَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ فَقَالَ اِسْتَأْذَنْتُ رَبِّى فِى أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِى وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِى أَنْ أَزُوْرَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِى فَزُوْرُوْا الْقُبُوْرَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ (رواه مسلم رقم 2304 والحاكم رقم 1391 عن بريدة

"Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah Saw berziarah ke makam ibunya, kemudian beliau menangis dan membuat orang di sekitarnya menangis. Beliau bersabda: Aku meminta kepada Tuhanku meminta ampunan bagi ibuku, tapi aku tidak diperkenankan, dan aku meminta izin Allah untuk berziarah ke makam ibuku, maka diperkenankan. Berziarahlah ke kuburan, sebab akan mengingatkan pada kematian" (HR Muslim No 2304 dan al-Hakim No 1391 dari Buraidah).


رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ زَارَ قَبْرَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدِهِمَا فِى كُلِّ جُمْعَةٍ مَرَّةً غَفَرَ اللهُ لَهُ وَكُتِبَ بَرًّا (رواه الطبرانى فى الأوسط رقم 6114 عن أبى هريرة قال الهيثمى (3/60) : فيه عبد الكريم أبو أمية وهو ضعيف والحكيم 1/126 وابن أبى الدنيا فى القبور والبيهقى فى شعب الإيمان عن محمد بن النعمان معضلاً وأخرجه أيضًا الديلمى رقم 5537 والرافعى 1/303)
"Diriwayatkan dari Rasulullah Saw, beliau bersabda: Barangsiapa berziarah ke makam kedua orang tuanya atau salah satunya setiap Jumat sekali, maka Allah akan mengampuninya dan mencatatnya sebagai anak yang berbakti" (HR al-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Ausath No 6114 dari Abu Hurairah. Al-Haitsami berkata: Di dalam sanadnya terdapat Abdul Karim Abu Umayyah, ia dlaif. Juga diriwayatkan oleh al-Hakim al-Turmudzi I/126, Ibnu Abi al-Dunya dalam kitab al-Qubur, al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman secara mu'dlal, al-Dailami No 5537 dan al-Rafi'i I/303).


عَنْ أَبِي بَكْرٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ مَنْ زَارَ قَبْرَ وَالِدَيْهِ فِي كُلِّ جُمْعَةٍ أَوْ أَحَدِهِمَا فَقَرَأَ عِنْدَهُمَا أَوْ عِنْدَهُ يس غُفِرَ لَهُ بِعَدَدِ ذَلِكَ آيَةً أَوْ حَرْفًا (رواه ابو الشيخ في طبقات المحدثين بأصبهان 3 / 201 والحافظ جلال الدين السيوطي في الدر المنثور 12 / 319 والعلامة العيني في عمدة القاري شرح صحيح البخاري 4 / 497 والمناوي في التيسير بشرح الجامع الصغير 2 / 814 وقال اسناده ضعيف)
"Diriwayatkan dari Abu Bakar, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda: Barangsiapa berziarah ke makam kedua orang tuanya atau salah satunya setiap Jumat, kemudian membaca Yasin di dekatnya, maka ia akan diampuni sesuai bilangan ayat atau huruf" (HR Abu al-Syaikh dalam Thabaqat al-Muhadditsin III/201, al-Hafidz Jalaluddin al-Suyuthi dalam tafsir al-Durr al-Mantsur XII/319,

Di antara yang perlu diperhatikan dalam ziarah kubur adalah:

1. Ketika masuk, disunahkan menyampaikan salam kepada mereka yang telah meninggal dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada para sahabat agar mengucapkan,

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَ إِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ ، أَسْأَلُ اللهَ لَناَ وَ لَكُمْ الْعَافِيَةَ (مِنَ الْعَذَابَ

“Semoga keselamatan tercurah untuk kalian wahai para penghuni kubur, dari orang-orang beriman. Dan kami insya Allah akan menyusul kalian. Aku memohon kepada Allah, untuk kami dan untuk kalian keselamatan (dari azab).” (HR. Muslim dan lainnya).

2. Tidak duduk di atas kuburan, serta tidak menginjaknya, Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

لاَ تُصَلُّوْا إِلَى الْقُبُوْرِ وَ لاَ تَجْلِسُوْا عَلَيْهَا

“Janganlah kalian shalat menghadap kuburan dan jangan pula duduk di atasnya.” (HR. Muslim).

3. Tidak melakukan tawaf sekeliling kuburan dengan niat untuk ber-taqarrub (mendekatkan diri kepada orang yang dikubur). Karena Allah berfirman,

وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

“Dan hendaklah mereka melakukan tha’waf di sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah, Ka’bah).” (AI-Hajj: 29).

Imam Ali bin Abitalib berziarah ke makam madinah.

Said bin Musayyab rah.a menceritakan bahwa ia dan para sahabat menziarahi makam-makam di Madinah bersama Ali bin Abu Tholib. Kemudian Ali berseru, “Wahai para penghuni kubur, semoga selamat dan rahmat dari Allah senantiasa tercurah kepada kalian, beritahukanlah keadaan kalian kepada kami atau kami akan memberitahukan keadaan kami kepada kalian.”

Lalu terdengar jawaban, “Semoga keselamatan, rahmat, dan berkah dari Allah senantiasa tercurah untukmu, wahai amirul mukminin. Kabarkan kepada kami tentang hal-hal yang terjadi setelah kami.”

Ali berkata, “Istri-istri kalian sudah menikah lagi, kekayaan kalian sudah dibagi-bagi, anak-anak kalian berkumpul dalam kelompok anak-anak yatim, bangunan-bangunan yang kalian dirikan sudah ditempati musuh-musuh kalian. Inilah kabar dari kami, lalu bagaimana kabar kalian?”

lalu terdengar suara, “Kain kafan kami telah koyak, rambut telah rontok, kulit mengelupas, biji mata terlepas di atas pipi, hidung mengalirkan darah dan nanah. Kami mendapatkan pahala atas kebaikan yang kami lakukan dan mendapatkan kerugian atas kewajiban yang kami tinggalkan. Kami bertanggung jawab atas perbuatan kami.” (Riwayat Al-Baihaqi).

Terkadang diantara kita merasa bingung, mana yg harus di lakukan..??
karna ada yang bilang berziarah kubur itu bid'ah dan lain sebagainya, lihatlah hadist di bawah ini,

Rosululloh bersabda:

وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

Dan ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya akanmasuk neraka kecuali hanya satu golongan saja. Para shahabat bertanya, “Siapakah dia, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Sesuatu yang aku dan para shahabatku ada di atasnya (Menjalankanya)” (HR at-Tirmidzi)

Hadis ini menegaskan satu golongan yang selamat adalah golongan yang meneladani keberagamaan Rasulullah dan para shahabat. Tetapi di sini ditambahkan para tabi’in, sebab di dalam hadis yang lain Rasulullah saw bersabda;

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya (al-Bukhari).

Semoga bermanfa'at.
Top of Form
Bottom of Form